Kamis, 30 Desember 2010

Sorry, i'm lazy

Sebenarnya aku pengen nulis banyak banget review movie dan serial drama yang baru-baru ini aku liat, tapi ternyata nulis itu gak gampang. Keseringan aku bingung sendiri mau nulisnya gimana dan radak frustasi kalau tulisanku jelek. jadi kalau mau nulis satu review aja itu butuh waktu lama. Nah, jadinya sekarang aku sedikit males nge-review, ditambah lagi, film yang tak lihat lumayan banyak, aku bingung mau nulis yang mana dulu. Tapi aku pengen banget orang-orang tahu film-film yang aku anggap must be watched. well, aku mencoba untuk melawan males itu.

Nah, di liburan ini aku bingung mau nulis film mana dulu, plus, aku ngerasa ternyata banyak film yang belum sempet aku lihat. dan sekarang aku lagi suntuk dan bingung mau nulis apa dan waktuku juga mau aku pake buat liat film yang belum aku lihat. Jadi, saat ini aku mau nonton dulu, daripada ntar aku nulis reviewnya pikiranku gak bebas. Tapi, aku pengen ngasih info, ini beberapa film yang aku lihat liburan ini dan belum sempet nge-reviewnya.

Selasa, 28 Desember 2010

theirs vs mine

they said,
neighbor grass is always greener
don't grow it up in my head

Charlie Bartlett


"Well duh dude, this place sucks. But I just worry that one day we're gonna look back at high school and wish we'd done something different." - Charlie Bartlett

Sudah lama aku nyari film ini semenjak pertama kali aku lihat di tv, tapi tak kunjung ketemu, dan tiba-tiba film ini ditayangkan lagi, dan untuk kedua kaliya, my tears came out.


Charlie Bartlett (Anton Yelchyn), seorang anak kaya raya  pindah ke sekolah menengah umum setelah dikeluarkan dari beberapa akademi swasta karena berbagai pelanggaran


Di sekolah barunya, ia hanya anak aneh yang selalu dikerjai teman-temannya. Demi mewujudkan misinya untuk menjadi populer, dia bekerja sama dengan salah satu preman sekolah untuk menjual “Ritalin, obat yang diberikan psikiater pribadi keluarganya untuk kesehatannya, yang dapat memberikan efek teler


Lambat laun permintaan semakin tinggi dan misinya untuk menjadi populer berhasil. Tidak hanya itu, ia semakin terkenal di kalangan teman-temannya sebagai psikiater karena ia tidak lagi sekedar menjual Ritalin, dia membuka konsultasi dan memberikan obat sesuai kondisi teman-temannya. Hingga pada akhirnya dia memutuskan berhenti menjual obat-obatan karena salah satu dari temannya, yang menderita “panic attact”, overdosis “Xanax”, obat penenang yang ia berikan. Tetapi ia tetap membuka konsultasi gratis untuk teman-temannya.



Charlie holds regular counseling sessions in the boys bathroom


Awalnya ia mengira tak ada satupun yang akan berbicara dengannya lagi, tapi ternyata “pasien-pasiennya” tetap setia mendengarkan nasehatnya. Namun tidak hanya mereka yang memiliki masalah pribadi, begitupun Charlie.



"Charlie, there are more important things than popularity! "
"Like what? Cause I'm seventeen. And right now, popularity's pretty damn important! " 

"Like what you do with that popularity"
 
Suatu hari, salah satu temannya berkonsultasi kepadanya, berencana untuk melakukan aksi demo untuk kebijakan sekolah yang memasang kamera cctv di setiap ruangan siswa. Charlie tidak setuju dengan peraturan sekolah tersebut, namun uga tidak membenarkan rencana demo tersebut. Tapi oleh kepala sekolah, ia dicurigai sebagai otak dibaliknya. Hingga akhirnya pembekrontakkan menjadi semaki tak terkendali karena charlie ditangkap pihak berwajib.


Film ini adalah perjalanan seorang remaja yang penuh inspirasi. Mungkin terdengar klasik, karena inti dari cerita ini adalah popularitas remaja, tetapi dengan cara yang sangat berbeda, menjadi psikiater teman-temannya. Disini Charlie digambarkan sebagai seorang remaja yang, memiliki pandangan yang luar biasa, nasihatnya-nasihat yang ia berikan sangat membangun dan BRILIANT. Walaupun pada akhirnya dia memutuskan untuk menghentikan praktek konsultasinya karena merasa teman-temannya terlalu bergantung dengannya.

Film ini mengajarkan kita untuk berpandangan lebih bijaksana. Dikemas dengan ringan dan realistis  sehingga membuat film ini dapat dierima khususnya di kalangan remaja.

"My name is Charlie Bartlett. If there's one thing I want you guys to walk away with tonight... it's that you guys don't need me. I really mean it. You think I'm any less screwed up than you are? I get up every morning, and I look in the mirror, and I try and figure out just where I fit in. And I draw a complete blank. You guys are looking to me to tell you what to do? You need to stop listening to me. Stop listening to people telling you who you should be! And stop listening to the people who are telling you you're not good enough to do the things that you want to do. You guys have all the answers."

My favorite scene:


Suatu hari setelah ia berhenti menjual obat-obatan dan di cap sebagai pembawa bencana oleh para guru, Charlie pergi menjemput pacarnya yang juga  putri dari kepala sekolahnya. Ia memberikan kantong bungkusan obat untuk pacarnya itu. Karena emosi, ayahnya keluar dan marah tak terkendali, Charlie berusaha untuk menjelaskan tetapi tidak diberi kesempatan. Si cewek sangat kecewa terhadap sikap ayahnya, dan akhirnya melemparkan bungkusan itu. Dan setelah dibuka, isinya adalah permen nikotin untuk pecandu alkohol. Yap, ini salah satu bagian dari film ini yang berisi  pelajaran penting untuk orang tua, control your emotion! Trust your children!

 And if you want to live high, live high
And if you want to live low, live low
'Cause there's a million ways to go
You know that there are

You can do what you want

The opportunity's on
And if you find a new way
You can do it today
You can make it all true
And you can make it undo
you see ah ah ah
its easy ah ah ah
You only need to know 

Cat Stevens, If You Want to Sing Out, Sing Out


Kamis, 23 Desember 2010

Confessions of A Shopaholic


"When I shop, the world gets better, and the world is better, but then it's not, and I need to do it again." - Rebbecca Bloomwood


Rebecca Bloomwood (Isla Fisher) terbelit hutang karena “penyakit” belanjanya yang sangat parah. Untuk melunasi hutangnya yang sangat besar, ia berniat  melamar pekerjaan di sebuah majalah fashion terkenal, “Allete”. Tetapi tidak mudah untuk mendapatkan pekerjaan disana, dia harus bekerja sebagai penulis di sebuah majalah financial, Successful Savings, sebagai batu loncatan menuju impiannya.



"You know that thing when you see someone cute and he smiles and your heart kind of goes like warm butter sliding down hot toast? Well that's what it's like when I see a store. Only it's better."- Rebbecca Bloomwood

Tugas pertamanya tidak memuaskan, mengingat dia tidak memiliki pengetahuan cukup di bidang perekonomian. Hingga suatu hari Rebecca  tergiur untuk mengikuti nafsu belanjanya di sebuah obral besar yang diadakan dan mengetahui bahwa barang yang telah dibelinya adalah palsu. Kemudian dituangkanlah penyeselannya itu menjadi sebuah artikel. Dari artikel inilah dia terkenal sebagai penulis dengan nama pena The Girl in the Green Scarf.


Diluar dari kesuksesannya, dia masih belum mampu untuk membayar hutangnya yang sangat besar. Segala upaya dilakukannya untuk menghindari sang dept collector. Hingga pada suatu talk show yang dihadirinya, terbongkarlah semua aibnya di depan publik. Kegilaannya terhadap belanja membawanya kedalam kesuksesan sekaligus  kegagalanya. Akibat penyakitnya itu ia kehilangan sahabat dan cintanya.
"They said I was a valued customer. Now they send me hate mail." - Rebbecca Bloomwood

My favorite scene, sooo funny!

Walaupun jalan ceritanya bisa dikatakan klasik, film ini sangat menghibur, lucu, menarik, dan juga cukup memberikan pelajaran khususnya untuk kaum wanita, sehingga tidak bosan untuk melihatnya beberapa kali. Komedi, kisah cinta, dan perjalanan hidup Rebecca dikemas dengan sangat baik. Enjoy the movie!

Selasa, 21 Desember 2010

Taken






“You don't remember me? We spoke on the phone two days ago. I told you I would find you.” - Bryan Mills 

Untuk memperbaiki hubungannnya dengan Kim (Maggie Grace), putri semata wayangnya,agen CIA Bryan Mills (Liam Neeson) memutuskan pensiun dari kesibukannya yang telah mengandaskan rumah tangganya dengan mantan istrinya Lenore (Famke Janssen).

 Saat ulangtahunnya yang ke-17, Kim berencana untuk berlibur dengan temannya, Amanda (Katie Cassidy), ke Paris. Mills sangat menentang rencananya tersebut. Tetapi karena perubahan sikap Kim dan desakan mantan istrinya, yang merasa Mills terlalu overprotective karena selalu berhadapan dengan kejahatan selama hidupnya, akhirnya sang ayahpun memberikan license untuk kepergian putrinya.


Sesampainya di Paris, kedua remaja tersebut berkenalan dengan seorang pemuda bernama Peter (Nicolas Giraud), yang ternyata merupakan salah satu sindikat penculik turis Perancis. Dengan modus berbagi taksi untuk menghindari ongkos yang mahal, selama perjalanan, Peter mendapati bahwa mereka menginap di sebuah apartemen sendirian, tanpa perlindungan orang dewasa.

Saat di dalam apartemen, ponsel Kim bordering. Kemudian ia mencari ruangan yang hening untuk menerima telepon dari ayahnya  karena Amanda menyetel musik dengan sangat keras. Saat ditelepon, Kim melihat beberapa orang asing masuk dan menyergap Amanda dari ruangan seberang.  Tak lama kemudian Kim juga tertangkap hingga mereka terseret dalam sindikat perdagangan wanita. Dari sinilah perjalanan Mills menyelamatkan putrinya dimulai.




Anak : (sambil kaget sekaligus panik) Ada seseorang di sini!
Ayah : Sepupu Amanda kembali?
Anak : Bukan. Oh Tuhan, mereka menculik Amanda.
Ayah : Apa? Apa yang kau bicarakan? Kimmy?
Anak : Ayah.
Ayah : Kim? Kim?
Anak : (sambil menangis) Ayah, mereka menculik Amanda. Mereka menangkapnya.
Ayah : (sambil berlari mengambil alat perekam dan berusaha mengulur waktu) Oke, dengarkan ayah.
Anak : Oh Tuhan.
Ayah : Apa kau bertemu seseorang di pesawat?
Anak : Tidak.
Ayah : Di bandara?
Anak : Tidak. Ya, Peter.
Ayah : Peter? Siapa Peter?
Anak : Aku tidak kenal.
Ayah : Orang Amerika?
Anak : Bukan.
Ayah : Apa ia tahu di mana ia tinggal?
Anak : Dia naik taksi bersama kami. Ayah, mereka datang. Kumohon, aku takut.
Ayah : Ayah tahu. Tetap fokus, Kimmy. Kau harus bertahan. Berapa banyak mereka?
Anak : Tiga. Empat. Entahlah.
Ayah : Kau di mana?
Anak : Di kamar mandi?
Ayah : Masuk ke kamar. Masuk ke bawah ranjang. Bilang kalau kau sudah di sana.
Anak : (setelah berlari ke kamar dan masuk ke bawah ranjang) Aku di sini.
Ayah : (masih tetap fokus) Hal selanjutnya sangat penting. Mereka akan menemukanmu. Kim, fokus, ini intinya. Mungkin kau punya 5 atau 10 detik. Detik-detik yang sangat penting. Tinggalkan telepon di lantai. Konsentrasi. Tangkap apa saja yang kau lihat dari mereka. Warna rambut, warna mata, tinggi, pendek, bekas luka. Apapun yang kau lihat. Mengerti?
Anak : (masih tetap menangis) Iya.
Ayah : Mereka di sana. Aku bisa mendengarnya. Ingatlah, konsentrasi. Dekatkan teleponnya, jadi ayah bisa dengar. (sang penculik berbicara memakai bahasa Albania)
Anak : Mereka pergi. Kupikir mereka? Tidaak! Brewokan. Enam kaki. Tato di tangan kanan, bulan dan bintang.


Setelah dialog diatas, aku mulai semangat lihat film ini. Kelihaian Mills sebagai pensiunan CIA dalam menyelamatkan putrinya (dari teknik-teknik dalam menyelidiki, melacak, hingga menemukan putrinya yang hanya berawal dari telepon genggam) bener-bener bikin terpesona. Rangkaian perjalanan yang menegangkan penuh action bikin  tambah penasaran lihat film ini sampai detik terakhir. 


Niatnya mau liburan, tapi malah? Bayangin aja kalau kita liburan atau sekolah ke LN tapi karena gak waspada malah jadi tambah runyam, Naudzubillah. Film ini lumayan menguras emosi, gak habis pikir ada orang-orang yang bener-bener kurang ajar jahatnya dan mereka terorganisir dengan rapi. Astaghfirullah. Sampe temennya Mills sendiri ternyata juga terlibat. Betapa serakahnya manusia! Film action ini bener-bener menggambarkan kasih sayang seorang ayah yang berusaha mati-matian untuk menyelamatkan putrinya. Dan dari sini kita bisa belajar, bahwa kekhawatiran orang tua itu beralasan dan patut diperhiutngkan.

Say Hello!

wiiii,
sudah lama banget gak nge-post, maaf-maaf. lagi sibuk dan gak ada inspirasi.
tapi karena sekarang musim liburan, jadi lumayan bisa nge-post dikit-dikitlah.
tapi mungkin nanti aku lebih banyak nge-review film-film walaupun kebanyakan yang sudah lama se.
 ya,  cuma mau bagi-bagi info film, tapi, karena saya bukan penukis yang baik, jadi disarankan lihat trailernya setelah baca reviewnya, harap maklum.

terima kasih.

Nek karepe peyan ngunu. Yo mek isok tak rewangi Tak rewangi move on tekan aku