Mahasiswa, Beasiswa, dan Rokok

Tidak ada kata terlalu miskin untuk membeli rokok

Beberapa hari ini saya melihat iklan beasiswa rokok dan kemudian terbesit kembali dilematis yang beberapa semester lalu muncul dipikiran saya. Apakah beasiswa rokok termasuk politik dari perusahaan rokok? Saya tidak mempunyai cukup pengetahuan mengenai politik maupun ekonomi untuk membahas tentang ini. Hanya saja sebagai mahasiswa kesehatan saya sadar bahwa dilihat dari sudut pandang kesehatan, rokok membunuh masyarakat dan merugikan negara. Lantas bolehkah saya mendaftar beasiswa rokok? Disini saya tidak akan menghakimi teman-teman yang mendapatkan atau mendaftarkan diri untuk beasiswa rokok. Saya tidak tahu seberapa urgent kebutuhan teman-teman akan bantuan finansial, saya sendiri juga mempunyai teman-teman yang memang sangat membutuhkan bantuan ekonomi untuk membiayai perkuliahan dan tentu saja beasiswa akan sangat membantu. Disisi lain banyak juga teman-teman yang sebenarnya tidak memiliki urgensi tinggi untuk mendapakan beasiswa tapi tetap berburu beasiswa, bagimana tidak, beasiswa jelas sangat menguntungkan kehidupan mahasiswa. Tapi haruskah mendapatkan beasiswa dari perusahaan rokok? Jawabannya saya kembalikan lagi kepada teman-teman. Setiap orang memiliki alasannya sendiri-sendiri. 

Sebagai mahasiswa yang memiliki tingkat akademik yang lebih tinggi dan pemahaman yang lebih baik dibandingkan masyarakat lain, tidak bijak kalau kita tidak tahu-menahu dan acuh tak acuh mengenai politik perusahaan rokok ini. Sekali lagi disini saya tidak ingin memberikan penilaian terhadap teman-teman sekalian yang telah memutuskan untuk mengambil beasiswa perusahaan rokok, saya sendiri tidak bisa memberikan penjelasan mengenai ke-valid-an berita ini. Saya hanya ingin kita sadar bahwa ada opini yang beredar mengenai politik rokok ini dan tidak bijak rasanya apabila kita menghiraukan aspek ini. Setidaknya, apabila kita sudah memutuskan untuk mendapatkan beasiswa ini, maka pastikan bahwa kita tidak menjadi bagian dari politik yang dapat menghancurkan masyarakat. Pastikan kita tidak menjadi apa yang mereka harapkan (seperti yang dijelaskan pada artikel yang satu ini). Pastikan kita tidak akan menutup mulut.

https://basithinramadan.wordpress.com/2013/10/08/beasiswa-djarum-strukturalisme-vs-post-strukturalisme/

Komentar

Pos populer dari blog ini

Stay-The Most Confusing Movie I've Ever Seen

Charlie Bartlett

Playful Kiss/Naughty Kiss (Korean Drama)